I.
Gunung-gunung berbicara dengan lambat.
Suara mereka bergerak melalui batu dan akar, melalui tekanan waktu yang sunyi. Namun terkadang dunia berubah terlalu cepat sehingga gunung-gunung tidak sempat menunggu. Ketika itu terjadi, mereka menemukan cara lain untuk berbicara.
Kadang mereka menggunakan burung. Kadang sungai. Dan kadang mereka memilih anak-anak.
Anak laki-laki itu tinggal di sebuah dataran tinggi gurun, tanah merah membentang ke segala arah hingga bertemu langit dalam garis biru pucat. Setiap sore ia berjalan sendirian menuju hamparan tanah datar di balik tangki air dan menggambar hewan-hewan di debu. Ia menggambar dari suatu tempat di bawah ingatan, tempat di mana hewan-hewan itu masih bergerak dan selalu bergerak. Neneknya berkata bahwa hewan-hewan itu mengenalnya. Ia berkata bahwa mereka selalu mengenalnya. Anak itu mempercayainya seperti seseorang mempercayai cuaca, tanpa perlu memahami alasannya.
Sore itu ia menggambar seekor ikan. Ia belum pernah melihat lautan. Tongkat di tangannya hanya bergerak, melengkung dan terus melengkung, hingga bentuk itu terbaring di debu, bersirip panjang dan bermulut terbuka, seolah-olah ia datang dari tempat lain dan masih terkejut mendapati dirinya berada di daratan kering.
Di sebuah pulau di selatan Jepang, seorang gadis memandangi laut dari tembok batu di taman neneknya. Ada seekor rubah batu kecil di sudut taman, abu-abu oleh lumut kerak, yang matanya selalu ia anggap ramah. Air sore itu sangat tenang. Jenis ketenangan yang terasa seperti sedang mendengarkan.
Ia sedang memperhatikan sebuah perahu nelayan kecil melintasi ujung teluk yang jauh ketika ia melihatnya. Sebuah bentuk yang mustahil tipis, bergerak melawan langit. Seekor hewan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, berkaki panjang dan aneh, berputar di udara dengan semacam keanggunan yang terkejut sebelum perlahan mengecil, seperti asap.
Malam itu ia bermimpi tentang tanah merah.
II.
Ada sesuatu yang sedang berubah di dunia di balik penglihatan-penglihatan ini, sesuatu yang lebih lambat, lebih besar, dan lebih sulit diberi nama.
Anak laki-laki itu mendengar ombak di tempat yang seharusnya hanya ada gurun, suara yang tidak seharusnya berada di dataran tinggi itu. Suatu kali ia melihat seekor burung laut putih jatuh dari langit dan menghilang ke dalam tanah liat merah seolah-olah bumi sesaat berubah menjadi air. Gadis itu melihat bentuk-bentuk bergerak di dalam lautan, hewan-hewan yang terbuat dari garis-garis sederhana dan cahaya yang berubah-ubah, selalu berada di tepi penglihatan.
Panas bertahan terlalu lama pada tahun itu. Dasar sungai kecil itu kering sepenuhnya. Suatu senja, anak laki-laki itu berdiri di tepi tanah datar dan merasa takut, bukan terhadap sesuatu yang khusus, melainkan terhadap perasaan bahwa segala sesuatu sedang condong menuju sesuatu yang tidak dapat ia lihat, tetapi dapat ia rasakan bentuknya.
Pada senja yang sama, gadis itu berdiri di taman neneknya dan menatap rubah batu itu. Matanya, yang selalu tampak ramah, kini tampak cemas.
“Obāchan,” katanya. “Sesuatu akan datang.”
Neneknya menggenggam tangannya. “Ya,” katanya.
Apa yang datang itu tidak tiba sekaligus. Laut surut lalu kembali dengan cara yang berbeda, seperti sesuatu yang telah mengambil keputusan. Anak laki-laki itu menggambar di tanah dengan tongkatnya, tanpa tahu mengapa. Ikan, burung-burung laut, tembok batu, siluet seorang gadis yang berdiri di tepi tidurnya. Gadis itu memikirkan dirinya di sisi lain dunia dan memahami bahwa apa pun yang sedang terjadi, sedang terjadi pada mereka berdua.
Ia tidak takut. Ia takut. Kedua hal itu benar pada saat yang sama.
Laut menarik napas.
III.
Ketika dunia kembali sunyi, itu adalah jenis kesunyian yang berbeda.
Jauh di dalam batu bumi, gunung-gunung membengkokkan dunia sedikit saja, hanya cukup untuk membuka sebuah jalan. Suatu malam udara di depan anak laki-laki itu bergeser. Cakrawala terlipat. Melalui celah itu ia melihat tebing berhutan di atas laut, dan seorang gadis berdiri di tepinya, kecil dan diam, bahunya sedikit terangkat seolah-olah ia kedinginan atau sedang bersiap menghadapi sesuatu.
Pada saat yang sama, gadis itu melihat sebuah dataran merah yang luas, dan seorang anak laki-laki berlutut di dalamnya, di sampingnya di tanah terdapat sebuah gambar yang tidak dapat ia lihat dengan jelas.
Kini ia mengerti bahwa selama ini ia telah menggambar dunia gadis itu, meraih sesuatu yang tidak memiliki nama baginya. Gadis itu mengerti bahwa bentuk yang pernah ia lihat bergerak melintasi langit di atas teluk berasal darinya, bergerak keluar dari debu, garis-garis yang menjadi hidup.
Di antara mereka terbentang ruang sempit tempat dua angin yang jauh bertemu. Angin gurun membawa kehangatan dan debu. Angin samudra membawa garam dan kabut sejuk.
Gadis itu mengangkat tangannya. Anak laki-laki itu mengangkat tangannya. Tangan mereka bertemu di udara yang bergetar.
Dari kejauhan, itu mungkin tampak seperti seutas asap tipis yang melayang di antara dua gunung yang jauh.